Bulan depan, saya tugaskan kamu ke Bandung selama 1 minggu. Kurang lebih seperti itulah Bos ku bilang. Tadi siang aku dipanggil menghadap beliau. Betapa senangnya. Sudah lama aku tidak berkunjung ke kota parahyangan. Aku ditugaskan untuk meng-audit keuangan kantor cabang kami di sana. Aku bekerja di sebuah biro perjalanan antar kota yang cukup diminati. Dengan kesibukan di kantor, lumayan lama ku tak mengunjungi kota ini.
Setiap kali mendengar kata Bandung, darahku berdesir, jantungku berdetak lebih cepat, fikiranku langsung melayang ke kota itu, file-file memoriku terbuka. I love Bandung. Aku menjadi anggota facebooker I love Bandung. And I love someone in Bandung.
Betapa aku telah jatuh cinta dan semakin cinta ketika ku temukan cinta di Bandung. Aku ingin hidup di sana, memiliki rumah dan keluarga di sana. Impian yang semakin menyusup dalam kalbu.
Apa itu semua hanya menjadi anganku saja?
Kenyataan saat ini, aku tinggal di kota yang menjadi jantung Indonesia, Jakarta. Itu tak seberapa jika dibandingkan hal lain, kehilangan orang yang aku cintai. Betapa sakitnya hati ini.
Andi : Hai..:) Pa kabar?
Sari : Alhamdulillah, baik. Kamu?
Andi : Alhamdulillah, baik juga
Itulah yang biasa Andi lakukan ketika melihat status yahoo messager (YM)-ku berwujud smile. That’s mean I’m online. Perkenalan kami bermula di friendster, jejaring sosial sebelum facebook. Setelah itu, kami sering chat. Berlanjut ke tukeran nomor handphone. Dia selalu menghubungiku ketika sedang online, so aku buru-buru rubah statusku menjadi si kuning smile. Begitu juga sebaliknya. Aku hubungi dia jika aku duluan yang online, dia akan melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari dia mengajakku untuk kopi darat. Bertemu langsung. Tentu saja aku menyambutnya. Dia tinggal di Bandung. Walau bukan tinggal di Bandung, aku cukup sering mengunjungi Bandung, adik-adik mamaku ada di sana.
Kami sepakat untuk bertemu jumat sore di salah satu mesjid terkenal di Bandung. Awalnya aku menawarkan bertemu di Gramedia BIP. Tapi, akhirnya kami menyanggupi di tempat yang lebih dekat dengan rumah tanteku.
Sore itu kami bertemu yang pertama kali. Kesan pertama….ada,deh!!!!^_^
Andi mengajakku jalan-jalan keliling Bandung lewat pesan singkat di HP-nya. Padahal saat itu, kami sedang ngobrol berhadapan. Lucu juga..hihihi…Tapi, aku menolak. Hatiku ragu, tapi senang. Ya sudahlah.
Setelah pertemuan itu, kami jadi semakin sering komunikasi via sms atau telepon. Setiap malam kami menggunakan layanan YM. Semuanya terus berlangsung hingga suatu hari, tak ku dapat kabar darinya. Entah di mana ia, apa yang ia lakukan. Aku tak berani menghubunginya. Takut akan membuatku sakit. Sama seperti dulu. Seorang yang dekat denganku tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kemudian ku dihubungi seseorang yang mengaku tunangannya. Siapa yang tidak sakit, kecewa, merasa dibohongi, dikhianati. Betapa pun ia rapih sembunyikan kebohongannya, Allah yang akan membukanya dengan atau tanpa sepengetahuannya. Itu yang selalu ditunjukkan-Nya padaku. Alhamdulillah. So, aku selalu berfikir setiap orang punya hak untuk bicara jujur atau tidak, yang jelas semua akan berpulang padanya.
Itu yang aku takutkan kini. Dikhianati kembali. Walau di antara kami tidak ada kejelasan hubungan. Aku lebih memilih mundur. Tak ingin ku kecewa tuk kesekian kali. Meskipun ku menyadari di hati ini telah bersemi sesuatu yang indah terhadapnya.
Ku harus bergelut dengan hati yang terkadang tak bisa kompromi dengan kenyataan yang ku hadapi. Tawaran berlibur ke Pangandaran ku terima. Semoga saja bisa menyembuhkan kegundahgulanaan hati ini. Menghabiskan waktu di sana bersama keluarga, cukup menghibur hati yang sedang berduka. Belum lama hatiku sembuh. Dan kini. Haruskan ku alami kembali sakit. Ya Rabb..ujian ini..
Jakarta..How busy you are. Tampaknya kota ini selalu hidup 24 jam. Pasar minggu, daerah di mana ku tinggal kini, selalu ramai. Lima bulan sudah aku tinggal di Jakarta. Dengan kehadiranku, tampaknya Jakarta semakin padat. Tapi, mau bagaimana lagi, karena kantor ku di Jakarta ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku menjadi warga Jakarta. I always dream stay in Bandung. The best place to stay. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Dia memilih Jakarta sebagai tempat terbaikku untuk saat ini dan entah sampai kapan. Only He knows. Sama halnya dengan permasalahan jodoh. Bukankah Dia telah menetapkan usia, rejeki dan jodoh seseorang.
Ya Rabb..bawalah hati, fikiran, jiwa dan raga ini dengan laki-laki yang Kau takdirkan menjadi jodohku. Begitu juga ia. Berikan laki-laki yang terbaik untuk menjadi suamiku, yang mendatangkan kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan untukku dan keluargaku di dunia dan akhirat. Begitu pula diri ini, moga menjadi istri yang terbaik untuknya, membawa kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan untuknya dan keluarganya di dunia dan akhirat. Aku bersyukur dan beruntung mendapatkannya, ia pun bersyukur dan beruntung mendapatkanku. Aamiin Ya Allah..Aamiin
Dengan doa yang selalu ku panjatkan itu, entah mengapa, hati dan fikiran ku selalu terpaut padanya. Andi. Apa kabarnya. Mungkin sekarang dia sudah memiliki calon atau bahkan mungkin sudah menikah. Tapi, kenapa, hatiku selalu tertuju padanya. Aku tak pernah mengada-ada akan perasaan. Jika memang ini hanya godaan syetan, maka aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk yang datang melalui bisikan hati dalam bentuk jin dan manusia.
Yang ku tahu Andi telah mempersiapkan pernikahan dengan calonnya. Ya, Rabb. Hati ku hancur, cinta yang tak berbalas. Apa cinta itu seperti kupu-kupu? Ketika dia menghampiriku, aku biarkan, tetapi ketika dia mulai menjauh, aku mendekati dan mengejarnya sampai akhirnya pergi tanpa bisa ku dapatkan. Seperti itu kah cinta yang aku kenal? Could somebody tell me the true about love? Reaching for a love that seem so far…lirik judul My Love –nya Westlife. Yah..terasa sangat jauh untukku raih.
I never know His plan for me. What I know is He will give everything the best for me. Ketika cinta hamba kepada Sang Khalik menduduki posisi tertinggi, apalah artinya cinta terhadap makhluk. Bukankah hati itu milik Allah. Dia mempunyai hak atas hati hamba-Nya. Rabbi. Tolonglah hati hamba-Mu ini yang sekali lagi terluka karena cinta. Cinta yang seharusnya tidak tumbuh sebelum ikatan suci. Namun apa daya, hati ku ini begitu lemah, dengan mudahnya perasaan itu menyelusup ke dalam hati yang belum bertuan. Kini, hati ini harus ku tata hingga mendapatkan pemilik yang sah.
Kehidupan baru ku di Jakarta, ku nikmati dengan penuh antusias. Semoga menjadikan segalanya menjadi lebih baik, termasuk untuk kehidupan hatiku.
Sekitar 2 jam lagi aku akan tiba di Bandung. Pastinya akan membuka kembali segala impian dan harapan yang telah aku kubur. Apa Andi sudah menikah kini. Sepertinya dia tidak berniat untuk mengundangku. Sudahlah. Mungkin kalau aku hadir ke pernikahannya, akan membuat hatiku semakin hancur. Walau, aku rasa cukup tegar untuk menghadapinya.
Mobil yang aku tumpangi, berdua dengan sopir memasuki gerbang tol Pasteur. Kantorku berada di daerah Setiabudi. Walau bukan hari libur, tampaknya cukup padat juga kendaraan yang melaju ke arah Setiabudi dan Lembang. Asyik, aku bisa jalan-jalan nanti setelah urusan kerja selesai tentunya. Fikiranku mulai merancang sendiri schedule jalan-jalanku, tempat-tempat yang akan ku kunjungi, kuliner yang sudah aku rindukan kelezatannya di lidahku ini. Untungnya air liur ku tidak menetes.
Ku putuskan untuk keliling Bandung sendiri tanpa sopir. Kasian juga Pak Kasmin, ku suruh istirahat saja di kantor. So, I’m ready to go…
Dua tempat yang menjadi prioritas utama dan mendesak untuk dikunjungi adalah tempat jualan jagung dan ketan bakar di Lembang, dekat Saung Strawberry. Tempat di mana Andi dulu pernah mengajakku. Selanjutnya adalah kafe di daerah Taman Sari. Absolutely still connected with Andi. Aku menikmati perjalanan ini. Mengenang akan dia. Aku tak tahu kenapa ini ku lakukan. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku inginkan. Ya Rabb.
Memasuki kafe, suasana remang-remang. Kesan pertama ketika aku ke sini bersama Andi adalah romantic. Kami menikmati cappuccino ice cream. I love that. Sebenarnya aku pesan es krim goreng, penasaran dengan namanya. Es krim kan dingin, tapi ko digoreng??? Es krimnya dibalut oleh adonan tepung terigu mirip pisang goreng atau mendoan, bedanya yang ini balutannya tebal dan terdapat taburan tepung roti. Ketika sendok memotong balutan itu, maka akan keluar cairan seperti lava dari gunung merapi. Adonan tepung terigu yang manis ditambah cairan yang ternyata es krim, manis juga. Disayangkan lidahku tidak menikmatinya. Lidahku lebih menyukai cappuccino ice cream pesanan Andi. Acara makan itu, sebagai traktiran ulang tahunku, Andi pun memberikan hadiah untukku. Hadiah yang akan selalu ku kenang. Boneka kelinci berwarna pink dengan telapak kaki berwarna putih, menggenggam bantalan berbentuk hati bertuliskan I Love You. So sweet. Bodohnya aku tidak menyadari maksud di balik semua ini. Walau secara tingkah laku, Andi begitu perhatian, tetapi dia tidak pernah menegaskan perasaannya lewat kata-kata. Aku terlalu gengsi untuk mengawali. Atau mungkin takut dikira ge-eR.
Malam ini, aku duduk di tempat yang sama ketika pertama kali ke sini bersama Andi. Ada beberapa tempat yang kosong, aku sengaja memilih tempat itu, karena itulah yang paling nyaman menurutku. Terletak di pojok kiri kafe, cukup privacy. Aku memesan iga bakar dan cappuccino ice cream sebagai dessert. Tampaknya pengunjung malam ini tidak seramai kalau malam minggu. Kebanyakan adalah mahasiswa yang selesai kuliah, membawa buku tebal atau tugas kuliah, obrolan seputar matakuliah, sambil menikmati hidangan di hadapan mereka. Tak banyak yang ku lakukan. Hanya melihat orang-orang di sekitar. Tiba-tiba, aku menangkap sosok yang tak ku duga. Laki-laki tinggi, kurus, memakai jaket krem. Andi. Apa yang dia lakukan di sini, batinku. Andi mengedarkan pandangannya ke ruang di kafe itu. Aku percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Allah telah merancang segalanya. Dia melihatku dan berjalan ke arahku.
“Assalamu’alaikum”, sapanya, “Ko, ga bilang-bilang kalo kamu ke Bandung?”
“Wa’alaikumussalam Wr. Wb”, aku menjawab salamnya.
“Emangnya aku harus bilang, ya?”, aku balik tanya. Seandainya kamu tahu, aku juga pengen menghubungi kamu.
“Ko sendirian, mana istrinya?”
Andi tampaknya tidak terkejut dengan pertanyaan lanjutanku. Kemudian dia tersenyum.
“Memangnya aku ada tampang sudah menikah ya…!?!”
Pesanan kami datang. Kami mulai sibuk dengan santapan masing-masing. Pesanan kami sama. Aku masih penasaran dengan pernikahannya. Maka, tak sungkan ku tanyakan kembali. Andi belum menikah. Setelah meyakinkan orangtuanya. Perjodohan itu dibatalkan. Yah, Andi adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang mengalami kasus perjodohan. Namun, dengan alasan yang logis dan kemampuan diplomasinya yang hebat. Orangtuanya menerima permintaan Andi. Alhamdulillah, perjodohan itu belum sampai pada tahap pinangan. Dengan demikian, kedua belah pihak masih memiliki pilihan untuk melanjutkan atau menghentikan.
“Penghentian perjodohan itu tidak main-main, Sari”, sambungnya,”Aku telah melakukan istikharah dan konsultasi dari orang-orang yang ku percaya. Termasuk dengan orangtuaku.
“Kamu, ko, berani banget,sih”, kataku.
Andi kembali tersenyum. “Demi meraih impian dan harapan”, lanjutnya.
“Memangnya apa impian dan harapan kamu?”
“Impian dan harapanku adalah menjadi suami dari seorang bernama Sari Puspita, yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”
Aku kaget, ga percaya dengan omongannya barusan. Hampir saja aku tersedak.
“Iya, Sari. Sudah lama aku nantikan moment ini. Aku tahu kamu pun memiliki impian dan harapan yang sama.”
Selama ini, Andi telah mencariku tanpa ku ketahui. Termasuk kedatanganku ke Bandung. Dia bisa menebak tempat yang akan ku kunjungi di Bandung. Dua minggu setelah pertemuan yang menurutku tak terduga, Andi bersama orangtuanya, meminangku. Kami sepakat untuk melangsungkan pernikahan sebulan kemudian, tepat di hari ulang tahunku. Dengan acara yang sederhana, semoga membawa keberkahan untuk semua. Aamiin.
Rabbi. Rabbi. Rabbi.
Kupu-kupu itu. Akhirnya menghampiriku lagi. Dan telah kugenggam ia. Sesungguhnya, apa yang menjadi takdir-Mu, jauh lebih indah dari bayanganku. Hal yang tak terbayangkan sedikit pun.
sedih sekali ceritanya, mengharukan, tapi happy ending....mudah-mudahan kau menemukan "trully love"mu ya neng, seperti dalam ceritamu. Amin.
BalasHapusOne day, a tender love will come, and will take your hand. put you, in his warm arm, and hug you tightly, and never let you go....
so sweet..ckckckck...hehehe..
BalasHapusnais stori teh..
BalasHapusi just hope that every single story has it's own happy ending, same with this story ;)