Salam...

Di balik ucapan syukur selalu ada optimisme yang luar biasa (kutipan)

Senin, 22 November 2010

Its for u...my friend

Selalu ada canda
Terkadang ada luka
Di saat diri tak berdaya
Kau hadir bawa tawa

Semua jadi indah
Yang susah terasa mudah
Jarak dan waktu bukan masalah
Itulah ukhuwah


Kau, aku, kita
Seia tidak sekata
Derap langkah bersama
Gapai segala cita dan asa


Thank you so much my lovely friend
Atas persahabatan ini
The beautiful things that i ever had
Karena cinta Allah menyertai

Gadis Kecil

Gadis Kecil duduk di atas genteng rumahnya. Menatap gemintang yang berkedip-kedip padanya, dibuatnya pesona. Sesekali, matanya dipicingkan, pandangannya liar menyapu langit. Hening. Itu yang ia rasakan. Alam membisu. Begitu pun dengan Gadis Kecil. Asyik bermandikan bintang. Tak tahu akan waktu. Seolah bumi berhenti sejenak dalam putarannya. Lepas…


Si Gadis Kecil bersama sahabatnya berkeliling menjajakan kue donat. Muka mereka berseri-seri. Ini adalah pengamalan pertama Gadis Kecil berjualan, sedangkan bagi temannya, bukan menjadi hal baru lagi. Mereka bertemu pukul 05.30. Udaranya masih sangat segar. Kue donat yang mereka jual bisa menjadi pilihan sarapan pagi itu. Gadis Kecil tampak malu-malu menawarkan kue donatnya.
“Ayo, beli!!!!!!!! Kue donat enak…….” Gadis Kecil meneriakkan jualannya.
Kue donat yang mereka jual, sungguh lezat. Berbagai topping, ada cokelat, keju, kacang, selai.
Betapa girangnya Gadis Kecil ketika kue donatnya banyak dibeli. Letih perjalanan dan teriakannya, sirna ketika satu per satu kue donat di keranjangnya hampir habis.
Sampai pukul 08 menjelang, isi keranjang keduanya kosong. Tinggal kantong uang mereka yang kini dipenuhi recehan dan ribuan. Gadis Kecil dan sahabatnya istirahat di pos kamling suatu kampung, menghitung uang yang mereka terima pagi itu. Keduanya tertawa bersama.

Gadis Kecil menyusuri pertokoan. Hari yang cerah. Gadis Kecil mengenakan overall blue jeans, atasan t-shirt warna pink polos, dipadankan dengan kerudung pink yang bermotif bunga pada sekeliling kerudung. Tak lupa, tas kesayangannya bergelantungan di belakang, tas kelinci warna senada dengan t-shirt yang dipakainya.
Toko pertama yang dikunjungi Gadis Kecil yaitu toko pernak-pernik anak, dari mulai boneka, hiasan di rambut, gelang, anting-anting, masih banyak lagi. Terkadang, banyak barang baru yang ia temukan, tak sedikit pula barang yang masih dipajang di etalase toko, menunggu peminat. Walau sering keluar dari toko itu tanpa membawa sesuatu yang baru, alias tidak ada yang dibeli, ia cukup puas hanya dengan melihat-lihat saja. Pemilik toko sudah tahu akan keberadaannya. Untungnya, kunjungan rutinnya itu tidak mengganggu Sang Pemilik toko. Uangnya terlalu sayang kalau dibelikan barang-barang tersebut. Biasanya ia mendapatkan barang seperti itu sebagai hadiah.
Toko berikut yang menjadi favorit Gadis Kecil adalah toko buku. Setelah bunyi lonceng di pintu ketika masuk, mata Gadis Kecil langsung tertuju pada tulisan - Pojok Komik. Di tempat ini, ia melahap komik-komik yang belum dibacanya. Gadis kecil terkekeh-kekeh menikmati komik di hadapannya. Sepertinya ia lupa di mana ia saat itu. Dua, tiga komik terkadang jadi oleh-oleh dari toko ini. Kalau untuk barang yang satu ini, Gadis Kecil selalu bersedia mengeluarkan uang dari tas kelincinya.
Menjelang sore, Gadis Kecil menginjakkan kaki mungilnya di kedai es krim. Es krim di kedai ini, terkenal sangat enak. Menurutnya, tentu. Dipesannya satu mangkok besar es krim rasa cokelat vanilla dengan taburan choco chips, di dalam es, ada lelehan cokelat yang sungguh …hmmm, yummy. Ia habiskan es krimnya dengan cepat, sesekali menyeka mulutnya yang penuh es krim dan cokelat.

Gadis Kecil senang bersepeda. Menyusuri tepi sungai di sepanjang kanan, sedangkan si sebelah kiri, hamparan persawahan yang masih hijau. Kerudungnya berkibar-kibar seperti bendera tertiup angin. Peluhnya mengucur di keningnya. Tapi, ia tetap tertawa. Sesekali dari mulutnya keluar senandung. Di belakangnya, ada lima orang anak yang sebaya, mengikutinya. Rupanya, mereka sedang berlomba. Tentu saja, Gadis Kecil selalu menjadi tercepat. Tawanya penuh kemenangan.

Gadis Kecil. Betapa dunia yang penuh tawa baginya. Bermain dan bermain. Itu yang dilakukannya. Tidakkah ia tahu ada yang iri? Iri akan kebebasannya menikmati hidup seolah hidup ini tidak memiliki masalah yang harus dihadapi dan diatasi. Biarkanlah ia begitu di masanya, menikmati keceriaannya. Kelak, ia akan menyadari betapa indahnya masa itu, yang tak akan pernah kembali.

Rabu, 10 November 2010

Mati Rasa

Mati rasa?
Kaya lirik lagu ajah. Ko, bisa,yah?
Friend...Lets smile,smile, n smile..even u'r heart is crying. Allah knows.
Even all things seem so bad n blocked way. Lets tell to ourselves that everything is ok..everything is oke..kata lirik lagu mah Ya, sudahlah..Everything is gonna be okay..
Love You
(you'r phone tonight)

Selasa, 09 November 2010

Mia...Mia...Mia...


Mia termenung sendiri dalam resah. Sudah dua tahun hatinya sering dilanda gelisah. Hampa, seolah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Inikah apa yang dinamakan penantian. Setelah melewati seperempat abad usianya, harus mengalami proses lanjutan dalam tahapan kehidupan manusia, setelah dia alami masa-masa remaja menuju kematangan diri. Ya..fitrah manusia untuk mencintai dan dicintai. Fitrah manusia untuk berkeluarga dan berketurunan. Selalu dia ingat bahwa, sejak manusia lahir ke dunia, sudah ditentukan rizki, jodoh dan matinya. Sekarang, dia ingin menagih tentang jodohnya kepada Tuhannya. Siapakah jodohnya, fikirnya. Tentang rizki berupa harta, alhamdulillah selama ini Allah selalu melapangkan rizkinya, Mia   mendapatkan kecukupan rizki dunia. Ayahnya memiliki 2 toko kain di Pasar Baru. Ibunya seorang ibu rumah tangga sejati, berasal dari keluarga sederhana di pinggiran kota Bandung. Mia anak pertama dari dua bersaudara, adiknya laki-laki, Dito namanya, tengah menempuh S1 di Fakultas Ekonomi UI.

“Kapan menikah?”,,,pertanyaan yang sering dilontarkan padanya. Bisa jadi pada mereka yang belum menikah, pastinya…

Kata orang, masa SMA adalah masa yang paling indah. Begitu kah? Bagi Mia masa SMA adalah masa yang kelabu, meski tidak seluruhnya kelabu, persis warna rok seragam sekolahnya. Di masa itu, Mia seorang gadis yang sangat pemalu. Tak banyak teman yang bersamanya. Hanya Sarah, teman kecilnya. Mereka terus bersama hingga di bangku SMA ini. Walo tidak pernah satu kelas, tapi, persahabatan keduanya terjalin erat.
Mia adalah sosok gadis yang manis, berhidung mancung, berjilbab, dan pintar. Selalu menduduki peringkat nomor wahid di sekolahnya. Namun, dia kurang bergaul..alias kuper. Buku adalah teman keduanya setelah Sarah. Seandainya dia tahu, banyak laki-laki yang mengaguminya. Hanya saja, mereka tidak berani mendekati apalagi mengajaknya jalan-jalan keliling Bandung.
Dengan sifat pemalunya itu, Mia diperkenalkan pada dunia rohis oleh Sarah yang telah lebih dulu terjun.  Teman-teman baru, panggilan ukhti, sapaan salam, kata afwan, sudah familiar di kupingnya. Betapa menyenangkan bisa mengenal dunia ini, batinnya. Sejak itu, sifat pemalunya mulai bergeser. Pemalu, yang menurutnya membuat dia tidak bisa bergaul. Setelah aktif di rohis sekolahnya, pemalu bagi dia adalah malu ketika dia melakukan sesuatu yang tidak Allah suka. Itu yang  ia tau dari penceramah ketika ada pesantren kilat di sekolah.
Mia bersyukur, menjelang dirinya tanggalkan putih abu-abu, dia cukup memiliki kenalan selain Sarah. Setidaknya dia masih bisa tersenyum ketika bernostalgia dengan masa SMA.

Hidayah. Allah telah memberinya hidayah melalui perantara Sarah, sahabatnya. Betapa beruntungnya. Teman, tidak sedikit menjerumuskan dalam pergaulan bebas. Allah memberi Mia, teman yang mampu membawa pada-Nya.
Apa kabarnya Sarah, batin Mia. Betapa dia kangen. Satu tahun yang lalu mereka bertemu, di Bandung, dua hari sebelum keberangkatan Sarah. Sahabatnya itu sekarang berada di Perancis, melanjutkan S2. Suatu hari, aku juga akan menyusul Sarah ke Eropa, yakinnya.
“Boleh kamu lanjutkan S2, tapi menikah dulu,” pesan Mama Mia.
Hmmm…get back to marriage. Seem not easy as scholarship.
Rabbi. Betapa kesabaran itu tiada berbatas, tak terjangkau dalamnya. Mungkin, lebih dalam dibandingkan 4 samudera di dunia ini. Hingga harus terus ke selami.

Sewaktu kuliah, Mia begitu sibuk oleh rutinitas kampus, kuliah, rohis, bem, hima. Mia menikmati masa di bangku kuliah. Dirinya saat itu, berbeda dengan sewaktu ia berpakaian putih abu-abu. Mia kini seorang aktivis sejati, berbagai rekan ada di setiap penjuru kampus. Tentu saja rasa pemalunya masih ada. Sejujurnya, dia ingin mengalahkan Ustman Bin Affan yang malaikat pun malu padanya.
Dunia kampus sudah lama ditinggalkan Mia. Sekarang adalah dunia nyata (Lah,,kemarin-kemarin dunia apa,dong??!). Bergelut dengan segala permasalahan di sekitar, juga masalah diri. Tak terasa kini usia 27, batinnya. Usia yang sudah sangat matang untuk menikah. Tapi, dirinya begitu bingung. Tak tahu dengan siapa dia akan menikah. Beberapa tawaran ikhwan selalu gagal di tengah jalan, bahkan baru seperempat jalan. Ikhwannya mundur dengan alasan penghasilannya yang lebih rendah daripada calon istrinya. Gengsi mungkin. Ya..apapun alasan dari setiap kegagalannya, mungkin waktunya belum tepat pikirnya.
Ketika kuliah dulu, menikah masih hanya sekedar kata. Batinnya belum tergerak untuk melakukan. Padahal, orangtuanya sempat mau menjodohkan. Mia tidak mau. Kini, orangtua pun lepas tangan, sepenuhnya terserah Mia. Mereka hanya mendo’akan buat buat hatinya agar selalu diberi yang terbaik, mendapat jodoh terbaik.

Live must go on. Mia menjalani rutinitas barunya. Sebagai pegawai baru di perusahaan swasta di Jakarta. Dirinya sangat antusias dengan hal barunya. Suasana baru, teman-teman baru, rumah baru. Pengalaman baru sebagai anak kost. Akhirnya Mia merasakan seperti apa anak kost itu. Jadi teringat lagu lama Padhyangan Project, Nasib Anak Kost…

Aku makan tiap hari kadang hanya makan mi

Gimana nggak kurang gizi

Wesel datang tak pasti

Ibu kost tak mau mengerti

Nagih sewa bulan ini ..

Hidup sangat sedih .. uhh

Nasib anak kost ya nasib anak kost 2x


Ga gitu-gitu amat kali, It’s exciting…ckckckck…
But, selain mie, menu favorit Mia is orak-arik telor^^, saat persediaan bahan makanan habis and Mia dilanda males masak..

Pengalaman serunya dua malam bertutur-turut ini, seluruh penghuni kamar kost, bahu-membahu mengisi ember dengan air..semua ember terisi penuh. Untuk cadangan malam dan besok pagi. Walo mata sudah 5 watt, badan cape, tapi..kudu tetap SEMANGAT. Ketika orang-orang sibuk mengeluarkan air yang masuk ke rumah mereka akibat hujan turun yang terus mengguyur di Pasar Minggu, di tempat kost Mia, penghuninya sibuk meminta air dari tetangga, air bersih tentunya. Pompa air di tempat kost Mia rusak. Besok pagi baru bisa diperbaiki. Nasib anak kost..^^..

Jakarta. Ibukota tercinta. Akhirnya Mia bisa menyaksikan langsung Jakarta dengan segala kemegahan dan keprihatinannya. Mia merasa kasihan pada Gubernur DKI. Banyak PR yang belum tuntas. Setiap hari, masalah selalu ada. Terutama masalah macet dan banjir, itu yang Mia liat secara kasat mata. Juga mengenai tingkat kesejahteraan. Tampak jelas jurang antara Si Kaya dan Si Miskin. Belum lagi kriminalitas. Beberapa hari yang lalu, di dekat kantor Mia, ada ibu yang dijambret. Sebelumnya, rumah dekat tempat kost Mia, dibobol maling. Serem…Rabbi, Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong. Aku berlindung pada-Mu dari segala mara bahaya..Aamiin..pintanya.
Belum lagi kalau hujan tiba. Cuaca yang tidak menentu. Dua hari panasnya minta ampun. Besoknya, awan tebal mulai menutupi wilayah Pasar Minggu. Dari siang menjelang sore, petir mulai bersahutan. Acara pulang kantor pun disambut hujan yang mengguyur Pasar Minggu dan sekitarnya, sangat deras, ditemani petir dan angin kencang. Mia dan kawan-kawan yang sudah siap pulang, mengurungkan niatnya. Lebih baik menunggu hujan reda. Esoknya, dikabarkan ada jendela kantor yang pecah akibat petir kemarin sore, jaringan internet di kantor pun terputus. Menurut informasi dari senior Mia, daerah Pasar Minggu rawan banget sama petir dan belum ada penangkal petir. Jadi, kalau sudah terdengar petir mulai memanggil, bergegaslah matikan semua barang elektronik. Untungnya, waktu hujan kemarin, di ruangan Mia, seluruh barang elektronik terutama komputer sudah dimatikan.

Menjelang weekend, Mia sudah merancang apa yang akan dikerjakannya nanti. Hanya bersantai di kost atau jalan-jalan. Agenda pulang, ia jadwalkan sebulan sekali. Padahal rumahnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 jam. Ia pun sudah merencanakan berkunjung ke rumah teman-temannya yang ada di Jakarta, sayangnya belum terwujud. Kadang, Mia juga menginap di rumah saudaranya di daerah Bekasi.
Setiap Mia pulang, pasti ditanya, “Gimana, betah di sana? Wah, jadi orang Jakarta,yah, sekarang mah.”
Jawaban yang selalu Mia berikan adalah..just enjoy it. Selalu berusaha mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Mia ga tahu apa yang sejujurnya diinginkannya. Hidupnya, baginya, seperti air yang mengalir. Semua yang terjadi sudah ada yang mengatur. Ia hanya menjalankan sebaik mungkin perannya di dunia ini, entah itu sebagai anak, mahasiswi, pegawai, dan seorang perempuan dewasa.
”Ayo, mau cari apalagi? Pekerjaan sudah punya, usia sudah lebih dari cukup.”
Apa yang bisa Mia komentarin dari pertanyaan dan pernyataan mereka. Mia hanya bisa bilang agar mereka tak henti-hentinya mendoakannya, mendoakan mereka, yang masih status single untuk segera mengubah status menjadi marriage. Semoga diberi yang terbaik. Aamiin.
Teringat kisah Nabi Musa As. dalam Al Quran, Surat Al Kahfi : 65-82. Dikisahkan Nabi Musa As. berguru pada seorang hamba Allah. Sang Guru meminta agar Nabi Musa As. mengikutinya tanpa mempertanyakan sesuatu pun sampai Sang Guru memberi penjelasan. Namun, Nabi Musa As. membuat kesalahan dengan selalu bertanya apa yang dilakukan Sang Guru. Nabi Musa As. menanyakan kenapa Sang Guru melubangi perahu yang mereka tumpangi, kenapa Sang Guru membunuh anak muda yang mereka jumpai padahal anak muda itu tidak berbuat kejahatan. Nabi Musa As. bertanya kenapa Sang Guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh ketika mereka singgah di suatu negeri. Sang Guru mendapati Nabi Musa As. sebagai orang yang tidak sabar dengan terus mempertanyakan kenapa dan kenapa. Di akhir perpisahan mereka, Sang Guru menceritakan kisah di balik semua itu.
Kenapa Sang Guru melubangi perahu? Karena Sang Guru hendak menyelamatkan Si Pemilik perahu. Ia adalah seorang yang miskin, di hadapan mereka ada perompak yang akan merampas setiap perahu.
Kenapa Sang Guru membunuh anak muda? Karena anak muda itu, kelak akan memaksa orangtuanya kafir, jika anak muda itu dibunuh, Allah akan mengganti dengan anak yang shaleh.
Kenapa Sang Guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh? Karena di dalam rumah itu tersimpan harta milik dua anak yatim, ayahnya adalah seorang yang shaleh. Allah menghendaki keduanya sampai dewasa dan mempergunakan harta tersebut sebagai rahmat dari-Nya.
Semua yang dilakukan Sang Guru adalah berkat petunjuk dan kehendak Allah, sebagai pelajaran kepada Nabi Musa As.
Tentunya pelajaran buat semua. Buat Mia. Terkadang, ia mempertanyakan takdir yang Allah berikan padanya. Padahal, Allah Mahatau apa yang harus Dia lakukan, apa yang perlu Dia berikan untuk hamba-Nya. Pasti ada hikmah di setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup Mia. Tak terkecuali dengan urusan menggenapkan setengah dien. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk Mia genapkan dien. Siapa orang yang tepat dan terbaik untuknya. Mia hanya membutuhkan kesabaran yang tiada akhir dan do’a yang tiada henti hingga masa itu menjelang. It will be happen, Soon. Moga Allah menghendaki. Aamiin









Senin, 08 November 2010

Good Day

Feeling good
Feeling great
Feeling better
Feeling ok
Hope always like that
Today,,
Tomorrow,,
Everyday..
With smile makes everything feels good

Minggu, 07 November 2010

Terkadang Allah SWT menginginkan kita untuk jatuh, sakit, kalah dan menangis
Agar kita mengerti Sabar dan Syukur sebenarnya...

Atau hanya untuk sadarkan kita
Bahwa kebahagiaan, kemenangan dan keberhasilan
Butuh sebuah kolam keringat dan air mata 

07-11-2010, 5:10am.....(unknown number to my handphone)

Jumat, 05 November 2010

Miss u...

Where are you now? 
So long i didn't know about you
I always remember you
Pray you without you asked
Hope you always in happy
Where ever you are, you do
As long as you be fine

.......For everyone in somewhere unknown who has come to my life

Kamis, 04 November 2010

Westlife I Have A Dream

I have a dream,

a song to sing

To help me cope with anything

If you see the wonder,

of a fairy tale

You can take the future even if you fail

I believe in angels,

Something good in everything I see,

I believe in angels,

When I know the time is right for me.

I’ll cross the stream,

I have a dream

I have a dream,

a fantasy,

To help me through reality,

And my destination makes it worth the while

Pushing through the darkness

still another mile

I believe in angels,

Something good in everything I see

I believe in angels,

When I know the time is right for me

I’ll cross the stream - I have a dream

I have a dream,

a song to sing

To help me cope with anything

If you see the wonder,

of a fairy tale

You can take the future,

even if you fail

I believe in angels,

Something good in everything I see

I believe in angels.

When I know the time is right for me

I’ll cross the stream

I have a dream

I’ll cross the stream

I have a dream

sponsored by: stop dreaming start action


Lirik lagu Westlife I Have A Dream ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 terbaru.

Cinta itu...

Cinta tidak membelenggu, tapi melepaskan
Cinta tidak mengekang, tapi merelakan
Cinta tidak membebani, tapi mengorbankan
Cinta tidak memaksakan, tapi mengikhlaskan
Agar yang dicintanya bahagia selalu...

Rabu, 03 November 2010

Apa kata Socrates


Socrates pernah berkata bahwa hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak dihidupi (unexamined of life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Berarti, tanda bahwa manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal daripada tidak tahu mengapa kita berhasil.



My Diary


Sebuah penantian panjang dalam hidupku. Perjalanan yang penuh liku. Awal yang indah namun selalu tragis pada akhirnya. Memang segalanya belum berakhir. Jalan kehidupan ini sepertinya masih terbentang luas. Masih harus ku tempuh berpeluh keringat.
Seperti inikah ku berfikir tentang hidup, tentang sepenggal tahapan hidup. Menikah. Membangun rumah tangga. Merubah status dari Miss menjadi Mrs. Ku berharap segera temukan titik akhir untuk tahapan yang satu ini. Agar bisa ku lanjutkan menuju tahapan setelahnya.

Pagi yang cerah. Ku sambut dengan gembira. SEMANGAT. Hari baru harapan baru. Mengawali hari dengan penuh syukur pada-Nya. Diiringi semesta yang setia bertasbih pada Sang Pencipta. Mungkin aku kalah dalam bertasbih dibandingkan burung-burung, dedaunan, angin, mentari, bahkan semut yang selalu hampir terinjak. Subhanallah, mereka tercipta untuk patuh pada-Nya tanpa ada keberatan.
Mau tau ga kenapa aku selalu semangat setiap hari??? Salah satu alasannya, dengan bergantinya hari, it means, semakin dekat menuju tahapan itu…Menikah. Semakin dekat pertemuanku dengan jodohku. A Prince. Pujaan hati yang telah Allah siapkan dengan sangat sangat baik,..Absolutely.

Ku langkahkan kaki, tinggalkan peraduan, siap ku kepakkan sepasang sayap indahku, sebarkan wewangi yang membuat siapapun terbang melayang. Jadi kaya tebar pesona yah..haha..ngga,lah.
Hari ini, hari pertama ku bekerja di kantor baru, new office, new people, new situation. Wish  all things are better. Aamiin.
Hal lain yang begitu ku nantikan adalah….i meet with my soulmate here..so sweet.
Bener lagunya Wali. Pencarian dilakukan ke timur, barat, selatan, utara, tenggara..semua arah mata angin tampaknya sudah terjelajah. Dari musim duren, rambutan, musim banjir, kering kerontang..., musim gugur juga masuk. Tapi, tuh jodoh belum ada tanda-tanda nongol juga. Mungkin, lagunya Wali, pengalaman salah satu personilnya.

Bersyukurlah mereka yang Allah mudahkan untuk jodohnya. Tanpa harus melewati proses panjang. Bagaimana dengan mereka yang tergolong mendapatkan garis hidup sepertiku, tak harus bersyukurkah???! Tentu bersyukur pula. Bagaimana kepandaian kita untuk mensyukuri segala karunia-Nya. Tidaklah Dia menciptakan sesuatu pasti memiliki tujuan, bahan pelajaran buat hamba-hamba-Nya.
Iqra. Bacalah. Bagaimana kepintaran kita membaca kehidupan ini umpama sebuah papan tulis raksasa yang bergerak. Sang Guru adalah Allah Yang Maha Pintar. Murid-muridnya adalah manusia itu sendiri. Sekolahnya bernama sekolah kehidupan. Setiap waktu Dia adakan ujian untuk semua muridnya, berbeda atau bahkan sama ujiannya itu tergantung kemampuan masing-masing. Siapa yang berhasil menyelesaikan ujian ia akan naik dalam tingkatan kehidupannya, ujiannya akan semakin berat. Siapa yang dinilai gagal, ia harus kembali mengulang ujian yang sama atau drop out, seperti apa bentuk drop out-nya, silahkan fikirkan sendiri^_*... Akhir dari sekolah ini, adalah akhir dari kehidupan seseorang dan semesta. Mereka akan memiliki raport masing-masing.

Oke..kembali ke kelasku, kelas di mana saat ini ku dalam ujian kesabaran, keikhlasan dalam penemuan jodoh. Pelajaran sabar dan ikhlas, yang telah ku terima materinya, sering ku terima. Sering ku alami kegagalan dalam prakteknya. Aku orang yang agak, cukup, lumayan…ga sabar. Astaghfirullah…
Aku ingin berhasil untuk ujian ini. Apa yang harus ku lakukan? Haruskah ku buat materi sabar menjadi secangkir kopi luwak yang nikmat…
Hmmm…mungkin, tak lain dan tak bukan jawabannya adalah, aku terjun ke lautan sabar, ku selami kedalamannya, ku nikmati panorama sabar. Semakin aku menyelam ke dasarnya, semakin aku menyadari keinginan Dia terhadapku, memahami betapa baiknya Sang Khalik-ku ini, agar aku mencicipi kelezatan dari samudera kesabaran yang Dia ciptakan. Subhanallah. Alhamdulillah. Laa ila ha illaallaah. Allahhu Akbar.
Bagaimana dengan materi keikhlasan. Dia mengajakku untuk masuk ke suatu gua. Gua yang tiada berpenghuni kecuali Dia, pemilik Gua. Dia mengundangku menjadi tamu istimewa-Nya. Tak ada makhluk pun yang tahu apa yang ku lakukan di dalam gua itu. Hanya ada aku dan Dia.

Oct, 24th, 2010
I was tired. For everything. For my feeling. Dalam pencarian, penjemputan, penemuan cinta sejatiku. Dalam ikhtiar, tak tahu lagi aku harus berbuat apa. Selalu kutemukan ketidakcocokan, ketidakmantapan hati untuk memilihnya. Bahkan, tawaranku minta dicariin jodoh, ada yang tidak tersambut. Rabbi. Rabbi. Rabbi. tapi, ketika ada yang menawarkan...i was sorry, i couldnt..
Sebentar lagi ulang tahunku yang ke-27. OMG…I’m twenty seven years old,,I’m older n older. Sometimes, I don’t realize it. I felt same when I was senior high school or at college closer.
Tapi, ketika orang-orang memanggilku ibu,,,apa aku cukup tua, sampai dipanggil ibu??? Karena aku tidak merasa tua,hihihi…Kadang aku suka sebel dipanggil itu. Mungkin berbeda ketika aku sudah menjadi seorang ibu.

Nov, 2nd, 2010
I’m twenty seven years old..Cheer…
Moga Allah semakin memberkahi umur dan kehidupanku…aamiin.
Nikmat manakah yang kau dustakan?
Bahkan jika air laut dijadikan tinta pun, tak kan cukup untuk menuliskan segala nikmat yang Allah berikan.
So, bersyukur..bersyukur..dan bersyukur maka Allah akan semakin menambah nikmat buat hamba-Nya yang bersyukur.
I always wait for my birthday..in the day, I feel great, special, everybody loves me, my family, friends care about me.  Full of prayer, wish the best from Allah to my life n others…  
Hope always better in everything, there are lot of hopes to life.
Let it be happen.  

Carilah cinta sejatimu karena sesungguhnya ia sedang menunggumu
Jika kau lelah,
Tunggulah cinta sejatimu karena sesungguhnya ia sedang mencarimu
Kau tidak perlu mengemis cinta kepada manusia
Cukuplah Ia, Allah, pemilik atas cinta

I though i have been looking for you and havent yet found you..
I was tired, so, i think i'll be right here waiting for you
and you are coming..^^


Selalu Ada Tawa

Pepatah bijak berkata “Jika sekali tertawa dalam sehari menunjukkan bahwa kita masih hidup, maka dua kali sehari tertawa berarti masalah bisa diatasi. Sedangkan tiga kali sehari menunjukkan harapan dan optimisme, serta empat kali sehari menghantarkan kita pada kemampuan untuk mengatasi masalah dengan baik. Akhirnya, jika lima kali kita tertawa dalam sehari, maka itu akan membuat kita lebih panjang umur."

Senin, 01 November 2010

BANDUNG…I FOUND THE LOVE FINALLY

Bulan depan, saya tugaskan kamu ke Bandung selama 1 minggu. Kurang lebih seperti itulah Bos ku bilang. Tadi siang aku dipanggil menghadap beliau. Betapa senangnya. Sudah lama aku tidak berkunjung ke kota parahyangan. Aku ditugaskan untuk meng-audit keuangan kantor cabang kami di sana. Aku bekerja di sebuah biro perjalanan antar kota yang cukup diminati. Dengan kesibukan di kantor, lumayan lama ku tak mengunjungi kota ini.

Setiap kali mendengar kata Bandung, darahku berdesir, jantungku berdetak lebih cepat, fikiranku langsung melayang ke kota itu, file-file memoriku terbuka. I love Bandung. Aku menjadi anggota facebooker I love Bandung. And I love someone in Bandung.
Betapa aku telah jatuh cinta dan semakin cinta ketika ku temukan cinta di Bandung. Aku ingin hidup di sana, memiliki rumah dan keluarga di sana. Impian yang semakin menyusup dalam kalbu.
Apa itu semua hanya menjadi anganku saja?
Kenyataan saat ini, aku tinggal di kota yang menjadi jantung Indonesia, Jakarta. Itu tak seberapa jika dibandingkan hal lain, kehilangan orang yang aku cintai. Betapa sakitnya hati ini.

Andi : Hai..:) Pa kabar?
Sari : Alhamdulillah, baik. Kamu?
Andi : Alhamdulillah, baik juga

Itulah yang biasa Andi lakukan ketika melihat status yahoo messager (YM)-ku berwujud smile. That’s mean I’m online. Perkenalan kami bermula di friendster, jejaring sosial sebelum facebook. Setelah itu, kami sering chat. Berlanjut ke tukeran nomor handphone. Dia selalu menghubungiku ketika sedang online, so aku buru-buru rubah statusku menjadi si kuning smile. Begitu juga sebaliknya. Aku hubungi dia jika aku duluan yang online, dia akan melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari dia mengajakku untuk kopi darat. Bertemu langsung. Tentu saja aku menyambutnya. Dia tinggal di Bandung. Walau bukan tinggal di Bandung, aku cukup sering mengunjungi Bandung, adik-adik mamaku ada di sana.

Kami sepakat untuk bertemu jumat sore di salah satu mesjid terkenal di Bandung. Awalnya aku menawarkan bertemu di Gramedia BIP. Tapi, akhirnya kami menyanggupi di tempat yang lebih dekat dengan rumah tanteku.

Sore itu kami bertemu yang pertama kali. Kesan pertama….ada,deh!!!!^_^
Andi mengajakku jalan-jalan keliling Bandung lewat pesan singkat di HP-nya. Padahal saat itu, kami sedang ngobrol berhadapan. Lucu juga..hihihi…Tapi, aku menolak. Hatiku ragu, tapi senang. Ya sudahlah.

Setelah pertemuan itu, kami jadi semakin sering komunikasi via sms atau telepon. Setiap malam kami menggunakan layanan YM. Semuanya terus berlangsung hingga suatu hari, tak ku dapat kabar darinya. Entah di mana ia, apa yang ia lakukan. Aku tak berani menghubunginya. Takut akan membuatku sakit. Sama seperti dulu. Seorang yang dekat denganku tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kemudian ku dihubungi seseorang yang mengaku tunangannya. Siapa yang tidak sakit, kecewa, merasa dibohongi, dikhianati. Betapa pun ia rapih sembunyikan kebohongannya, Allah yang akan membukanya dengan atau tanpa sepengetahuannya. Itu yang selalu ditunjukkan-Nya padaku. Alhamdulillah. So, aku selalu berfikir setiap orang punya hak untuk bicara jujur atau tidak, yang jelas semua akan berpulang padanya.

Itu yang aku takutkan kini. Dikhianati kembali. Walau di antara kami tidak ada kejelasan hubungan. Aku lebih memilih mundur. Tak ingin ku kecewa tuk kesekian kali. Meskipun ku menyadari di hati ini telah bersemi sesuatu yang indah terhadapnya.

Ku harus bergelut dengan hati yang terkadang tak bisa kompromi dengan kenyataan yang ku hadapi. Tawaran berlibur ke Pangandaran ku terima. Semoga saja bisa menyembuhkan kegundahgulanaan hati ini. Menghabiskan waktu di sana bersama keluarga, cukup menghibur hati yang sedang berduka. Belum lama hatiku sembuh. Dan kini. Haruskan ku alami kembali sakit. Ya Rabb..ujian ini..

Jakarta..How busy you are. Tampaknya kota ini selalu hidup 24 jam. Pasar minggu, daerah di mana ku tinggal kini, selalu ramai. Lima bulan sudah aku tinggal di Jakarta. Dengan kehadiranku, tampaknya Jakarta semakin padat. Tapi, mau bagaimana lagi, karena kantor ku di Jakarta ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku menjadi warga Jakarta. I always dream stay in Bandung. The best place to stay. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Dia memilih Jakarta sebagai tempat terbaikku untuk saat ini dan entah sampai kapan. Only He knows. Sama halnya dengan permasalahan jodoh. Bukankah Dia telah menetapkan usia, rejeki dan jodoh seseorang.

Ya Rabb..bawalah hati, fikiran, jiwa dan raga ini dengan laki-laki yang Kau takdirkan menjadi jodohku. Begitu juga ia. Berikan laki-laki yang terbaik untuk menjadi suamiku, yang mendatangkan kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan untukku dan keluargaku di dunia dan akhirat. Begitu pula diri ini, moga menjadi istri yang terbaik untuknya, membawa kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan untuknya dan keluarganya di dunia dan akhirat. Aku bersyukur dan beruntung mendapatkannya, ia pun bersyukur dan beruntung mendapatkanku. Aamiin Ya Allah..Aamiin

Dengan doa yang selalu ku panjatkan itu, entah mengapa, hati dan fikiran ku selalu terpaut padanya. Andi. Apa kabarnya. Mungkin sekarang dia sudah memiliki calon atau bahkan mungkin sudah menikah. Tapi, kenapa, hatiku selalu tertuju padanya. Aku tak pernah mengada-ada akan perasaan. Jika memang ini hanya godaan syetan, maka aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk yang datang melalui bisikan hati dalam bentuk jin dan manusia.

Yang ku tahu Andi telah mempersiapkan pernikahan dengan calonnya. Ya, Rabb. Hati ku hancur, cinta yang tak berbalas. Apa cinta itu seperti kupu-kupu? Ketika dia menghampiriku, aku biarkan, tetapi ketika dia mulai menjauh, aku mendekati dan mengejarnya sampai akhirnya pergi tanpa bisa ku dapatkan. Seperti itu kah cinta yang aku kenal? Could somebody tell me the true about love? Reaching for a love that seem so far…lirik judul My Love –nya Westlife. Yah..terasa sangat jauh untukku raih.

I never know His plan for me. What I know is He will give everything the best for me. Ketika cinta hamba kepada Sang Khalik menduduki posisi tertinggi, apalah artinya cinta terhadap makhluk. Bukankah hati itu milik Allah. Dia mempunyai hak atas hati hamba-Nya. Rabbi. Tolonglah hati hamba-Mu ini yang sekali lagi terluka karena cinta. Cinta yang seharusnya tidak tumbuh sebelum ikatan suci. Namun apa daya, hati ku ini begitu lemah, dengan mudahnya perasaan itu menyelusup ke dalam hati yang belum bertuan. Kini, hati ini harus ku tata hingga mendapatkan pemilik yang sah.

Kehidupan baru ku di Jakarta, ku nikmati dengan penuh antusias. Semoga menjadikan segalanya menjadi lebih baik, termasuk untuk kehidupan hatiku.

Sekitar 2 jam lagi aku akan tiba di Bandung. Pastinya akan membuka kembali segala impian dan harapan yang telah aku kubur. Apa Andi sudah menikah kini. Sepertinya dia tidak berniat untuk mengundangku. Sudahlah. Mungkin kalau aku hadir ke pernikahannya, akan membuat hatiku semakin hancur. Walau, aku rasa cukup tegar untuk menghadapinya.

Mobil yang aku tumpangi, berdua dengan sopir memasuki gerbang tol Pasteur. Kantorku berada di daerah Setiabudi. Walau bukan hari libur, tampaknya cukup padat juga kendaraan yang melaju ke arah Setiabudi dan Lembang. Asyik, aku bisa jalan-jalan nanti setelah urusan kerja selesai tentunya. Fikiranku mulai merancang sendiri schedule jalan-jalanku, tempat-tempat yang akan ku kunjungi, kuliner yang sudah aku rindukan kelezatannya di lidahku ini. Untungnya air liur ku tidak menetes.

Ku putuskan untuk keliling Bandung sendiri tanpa sopir. Kasian juga Pak Kasmin, ku suruh istirahat saja di kantor. So, I’m ready to go…

Dua tempat yang menjadi prioritas utama dan mendesak untuk dikunjungi adalah tempat jualan jagung dan ketan bakar di Lembang, dekat Saung Strawberry. Tempat di mana Andi dulu pernah mengajakku. Selanjutnya adalah kafe di daerah Taman Sari. Absolutely still connected with Andi. Aku menikmati perjalanan ini. Mengenang akan dia. Aku tak tahu kenapa ini ku lakukan. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku inginkan. Ya Rabb.

Memasuki kafe, suasana remang-remang. Kesan pertama ketika aku ke sini bersama Andi adalah romantic. Kami menikmati cappuccino ice cream. I love that. Sebenarnya aku pesan es krim goreng, penasaran dengan namanya. Es krim kan dingin, tapi ko digoreng??? Es krimnya dibalut oleh adonan tepung terigu mirip pisang goreng atau mendoan, bedanya yang ini balutannya tebal dan terdapat taburan tepung roti. Ketika sendok memotong balutan itu, maka akan keluar cairan seperti lava dari gunung merapi. Adonan tepung terigu yang manis ditambah cairan yang ternyata es krim, manis juga. Disayangkan lidahku tidak menikmatinya. Lidahku lebih menyukai cappuccino ice cream pesanan Andi. Acara makan itu, sebagai traktiran ulang tahunku, Andi pun memberikan hadiah untukku. Hadiah yang akan selalu ku kenang. Boneka kelinci berwarna pink dengan telapak kaki berwarna putih, menggenggam bantalan berbentuk hati bertuliskan I Love You. So sweet. Bodohnya aku tidak menyadari maksud di balik semua ini. Walau secara tingkah laku, Andi begitu perhatian, tetapi dia tidak pernah menegaskan perasaannya lewat kata-kata. Aku terlalu gengsi untuk mengawali. Atau mungkin takut dikira ge-eR.


Malam ini, aku duduk di tempat yang sama ketika pertama kali ke sini bersama Andi. Ada beberapa tempat yang kosong, aku sengaja memilih tempat itu, karena itulah yang paling nyaman menurutku. Terletak di pojok kiri kafe, cukup privacy. Aku memesan iga bakar dan cappuccino ice cream sebagai dessert. Tampaknya pengunjung malam ini tidak seramai kalau malam minggu. Kebanyakan adalah mahasiswa yang selesai kuliah, membawa buku tebal atau tugas kuliah, obrolan seputar matakuliah, sambil menikmati hidangan di hadapan mereka. Tak banyak yang ku lakukan. Hanya melihat orang-orang di sekitar. Tiba-tiba, aku menangkap sosok yang tak ku duga. Laki-laki tinggi, kurus, memakai jaket krem. Andi. Apa yang dia lakukan di sini, batinku. Andi mengedarkan pandangannya ke ruang di kafe itu. Aku percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Allah telah merancang segalanya. Dia melihatku dan berjalan ke arahku.

“Assalamu’alaikum”, sapanya, “Ko, ga bilang-bilang kalo kamu ke Bandung?”
“Wa’alaikumussalam Wr. Wb”, aku menjawab salamnya.
“Emangnya aku harus bilang, ya?”, aku balik tanya. Seandainya kamu tahu, aku juga pengen menghubungi kamu.
“Ko sendirian, mana istrinya?”
Andi tampaknya tidak terkejut dengan pertanyaan lanjutanku. Kemudian dia tersenyum.
“Memangnya aku ada tampang sudah menikah ya…!?!”
Pesanan kami datang. Kami mulai sibuk dengan santapan masing-masing. Pesanan kami sama. Aku masih penasaran dengan pernikahannya. Maka, tak sungkan ku tanyakan kembali. Andi belum menikah. Setelah meyakinkan orangtuanya. Perjodohan itu dibatalkan. Yah, Andi adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang mengalami kasus perjodohan. Namun, dengan alasan yang logis dan kemampuan diplomasinya yang hebat. Orangtuanya menerima permintaan Andi. Alhamdulillah, perjodohan itu belum sampai pada tahap pinangan. Dengan demikian, kedua belah pihak masih memiliki pilihan untuk melanjutkan atau menghentikan.

“Penghentian perjodohan itu tidak main-main, Sari”, sambungnya,”Aku telah melakukan istikharah dan konsultasi dari orang-orang yang ku percaya. Termasuk dengan orangtuaku.
“Kamu, ko, berani banget,sih”, kataku.
Andi kembali tersenyum. “Demi meraih impian dan harapan”, lanjutnya.
“Memangnya apa impian dan harapan kamu?”
“Impian dan harapanku adalah menjadi suami dari seorang bernama Sari Puspita, yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”
Aku kaget, ga percaya dengan omongannya barusan. Hampir saja aku tersedak.
“Iya, Sari. Sudah lama aku nantikan moment ini. Aku tahu kamu pun memiliki impian dan harapan yang sama.”

Selama ini, Andi telah mencariku tanpa ku ketahui. Termasuk kedatanganku ke Bandung. Dia bisa menebak tempat yang akan ku kunjungi di Bandung. Dua minggu setelah pertemuan yang menurutku tak terduga, Andi bersama orangtuanya, meminangku. Kami sepakat untuk melangsungkan pernikahan sebulan kemudian, tepat di hari ulang tahunku. Dengan acara yang sederhana, semoga membawa keberkahan untuk semua. Aamiin.

Rabbi. Rabbi. Rabbi.
Kupu-kupu itu. Akhirnya menghampiriku lagi. Dan telah kugenggam ia. Sesungguhnya, apa yang menjadi takdir-Mu, jauh lebih indah dari bayanganku. Hal yang tak terbayangkan sedikit pun.