Ku coba berlari,,,menjauh semampu aku bisa.
Ku sembunyi di balik lebatnya hutan yang gelap.
Dia, Allah, Tuhanku dari dulu hingga sekarang, selamanya sampai menutup mata.
Kan tetap ku menjadi hamba-Nya.
Walo aku adalah hamba-Nya yang bandel, nge’yel.
Betapa baiknya Dia padaku.
Perjalanan hidupku di alam dunia, entah kenapa Dia memilihku ke dunia ini.
Aku tak punya pilihan.
Cahaya. Orangtuaku memberi nama. Harapan agar anaknya menjadi cahaya buat semesta, menerangi dunia.
Hidup penuh misteri. Semua yang ada di alam ini, rahasia Sang Pemilik alam.
Sejak SD, ku selalu mengikuti kegiatan pesantren kilat di bulan Ramadhan. Yayasan dekat rumah yang mengadakan. Seru. Diajar oleh kakak-kakak, banyak teman, menjelang akhir kegiatan ada buka puasa bareng. Pesantren kilat berlangsung sekitar 7-14 hari, setiap hari dari siang ampe sore. Metode pengajarannya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi nama berdasarkan nama-nama perang, ada kelompok Uhud, Badar, Hunain, dan sebagainya. Aku pernah masuk dalam kelompok Badar, untuk lainnya sedikit yang ku ingat. Cukup susah juga mengingat moment itu. Setidaknya itu bagian pembelajaran diri dalam menimba ilmu agama. Proses tarbiyahku. Di mana keluarga sedikit peran dalam memberikan ilmu-ilmu agama lebih mendalam. Mereka mempercayakan ke pihak luar, seperti memanggil guru ngaji. Alhamdulillah, aku pun patut bersyukur atas itu.Di kehidupanku selanjutnya, Allah selalu menuntunku.
Hal yang aku ingat terus adalah kebiasaan burukku menggigit ujung kerudung ketika pesantren. Saking seringnya ku gigit,,baunya jadi…heemmmm…tau kan bau orang yang berpuasa??? Hihihi…Alhamdulillah, kebiasaan itu berhenti dengan sendirinya.
“Cahaya itu berbeda”, suatu kali ku dengar seseorang berpendapat tentangku. Keluarga, saudara, mereka melihat kecenderunganku yang lebih tertarik belajar agama dibanding yang lain di keluarga.
“Selain pendiam, dia memang anak yang baik, tidak seperti anak-anak perempuan kebanyakan yang masih kecil sudah akrab dengan lawan jenis”, penuturan salah satu saudaraku.
Menurutku, aku tak terlalu lurus-lurus amat jalani hidup. Ngga seru,dong…Hhehe..Life is never flat.
Bolos dan dihukum guru pernah ku alami ^_^, jadi kenangan juga. Bukankah dalam perjalanan setiap hari itu kita membuat peristiwa untuk dikenang? Mengisi buku cerita kita. But, of course I didn’t plan want to make it. False or stupid thing. Terkadang ada sesuatu yang harus dilakukan tanpa direncakanan, berimprovisasi.
Kalo harus dibagi menurut kelas di lingkungan sosial, statusku termasuk kelas menengah. Kelas elite, ku bisa masuk, begitu pula ke kelas kecil. Sorry, bukan bermaksud untuk membeda-bedakan. Ku tau, semua ngga ada apa-apanya di mata Allah kecuali ia yang taqwa. Taqwa sendiri, Allah yang menilai. Manusia memiliki keterbatasan untuk urusan itu.
Apa enak menjadi orang menengah atau orang yang berada di tengah-tengah? Bayangkan kamu ada di pertengahan suatu persimpangan. Kamu bisa belok ke kanan atau ke kiri. Tergantung hati, fikiran, keinginanmu, juga tergantung siapa yang mengajakmu. Dalam bersosialisasi, yang berinteraksi intens dengan kita adalah teman-teman. Ingat pepatah, kalau bergaul dengan tukang minyak wangi akan terbawa wangi. Bergaul dengan pandai besi tentu saja baunya tidak sesedap minyak wangi, bau besi-lah…katanya,,=)..alhamdulillah, aku belum pernah punya teman dengan tukang pandai besi (lah, ko alhamdulillah?!)…tapi, walau temenku juga ngga ada yang jadi penjual minyak wangi,,aku tetap wangi,,ko..hehehe...
Pepatah lain berkata jangan kau tanya aku tapi tanyakanlah siapa temanku. Mungkin maksud dari pepatah itu adalah dengan melihat teman-temannya, orang lain akan mengetahui siapa orang itu. Benarlah anjuran ajaran islam, bergaullah dengan orang-orang shaleh agar diri terbawa menjadi shaleh.
By the way, bagaimana dengan tipe orang yang ada di pertengahan? Semoga saja kecenderungan hatinya selalu dalam kebaikan sehingga ia selalu rindu dan mencari lingkungan baik, teman-teman shaleh. Teman-teman yang “belum shaleh” tetap dirangkul dengan harapan kelak mereka pun menjadi pribadi yang baik, lebih baik. Kita tidak bisa menghakimi mutlak seseorang perihal keshalehan, Allah Mahatahu akan apa yang tersembunyi dalam hati. Keep husnudzon.
Aku, Cahaya, yang dengan itu ku bisa membawa cahaya ilahi di mana pun, dengan ijin-Nya. Aamiin.
Ku berharap punya pacar, seperti teman-temanku kebanyakan. Subhanallah. Allah selalu memiliki skenario agar hal itu tak terjadi. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, ku suka kakak kelasku ketika SMP. Cinta monyet, kata orang dewasa. Di sisi lain, aku juga tak menyadari ada seorang yang menyukaiku, padahal dia laki-laki yang cakep, standar anak remaja, mencari cowok cakep. Ku tahu setelah teman dekatnya menitipkan salam untukku.
Allah. Aku tak menyadari saat itu, Dia melindungiku dari hal-hal yang tidak banyak manfaat.
Kuikuti kembali pesantren kilat di bangku SMA. Saat itu, aku ada di kelas 2 SMA. Walau tak banyak kenalan sewaktu SMA, aku memiliki teman-teman dekat yang beragam. Bila ingin hang out, aku bisa mengajak Dita, Widi dan Sisi. Ketika acara pengajian atau pesantren kilat, aku pasti sama Hani. Bukannya aku tak mengajak ketiga temanku yang suka jalan itu, tapi, yah..gimana lagi aku ngga bisa maksa mereka. Bukankah batas kita hanya sampai mengajak, pilihan terserah pribadi masing-masing.
Aku dan Hani, memiliki guru idola yang sama, pengajar di kegiatan pesantren kilat kami. Pak Al Yasin, namanya. Sama dengan nama mesjid di mana beliau tinggal. Tentu saja aku dan Hani sering shalat di mesjid itu. Biasanya, setelah shalat kami tidak langsung beranjak pergi, tapi menghabiskan waktu di dalam mesjid atau di teras. Mesjid yang penuh kenangan buat kami, bercerita tentang masa depan, cita-cita, juga kenangan buruk. Kami pernah kehilangan barang. Entah bagaimana kejadian percisnya,aku lupa. Saat sedang mengambil wudhu. Tas kami disimpan di teras. Setelah selesai wudhu, kami mengambil tas masing-masing dan masuk langsung menuju lantai 2, tempat yang enak untuk menyepi, adem, pokoknya nyaman banget. Bisa sampai 1 jam kami di sana, atau bahkan lebih. Kami pun bersiap pulang. Begitu sampai di tempat kami meletakkan sepatu, ternyata hanya sepatuku saja yang masih tinggal. Sepatu Hani, hilang. Tentu saja kami kaget dan langsung berkeliling di sekitar mencarinya. Tak jua kami temukan wujud sepatu itu. Sepatu yang belum lama dibeli Hani, aku juga yang mengantarnya membeli sepatu itu. Kenapa sepatuku masih ada??? Pasti sudah tahu jawabnya. Sepatuku sudah jelekkkkkkk……..saat itu, aku bersyukur memiliki sepatu yang jelek. Alhamdulillah, tak jauh dari mesjid, ada rumah teman sekelas, kami ke sana meminjam sandal sehingga Hani tak harus pulang dalam kondisi kaki telanjang.
Ku kira, Hani saja yang kehilangan di mesjid Al Yasin, ketika ku buka tas, kalkulator scientific casio punya kakekku ternyata hilang juga.
Selama kegiatan pesantren kilat berlangsung, kami hanya mau masuk di pelajaran Pak Al Yasin. Sosoknya tinggi besar, putih bersih, berwibawa. Selain itu, cara mengajarnya enak, tidak terlalu serius, diselingi humor. Maaf saja, kalau yang masuk bukan beliau, kami pasti langsung kaburrrrrrrrrrrrr…………..
Dalam pelarian itu, halaman sekolah belakang jadi tempat perlindungan. Kami habiskan dengan mengobrol. So far, everything was under control..hehe, alias, ga ketahuan.
Suatu waktu, setelah pelarian itu, kami singgah di mushola sekolah. Mushola jadi salah satu alternatif tempat aman dari incaran guru bagi siswa/siswi yang bolos kelas atau bolos upacara. Jangan ditiru lagi,yah…cukup, kami yang mengalami.^_^.
Tampak sepi. Terlihat dua pasang sepatu siswa, sepasang sandal laki-laki. Pintu mushola terbuka tidak lebar. Seorang laki-laki berpakaian putih, memakai sorban. Di depannya, agak jauh dari laki-laki itu, ada dua orang siswi berjilbab. Sepertinya aku mengenali mereka. Sinta dan Anita. Teman seangkatan kami yang terkenal alim. Masih sambil cekikikan, aku dan Hani masuk mushola. Belum sempat kami duduk, laki-laki itu langsung menawarkan kami bergabung. Kami pun sepakat. Oooo…laki-laki itu adalah seorang ustadz. Ustadz Rahim, namanya. Beliau sedang memberikan ilmunya kepada Sinta dan Anita.
Tarbiyah. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah pendidikan. Sejak kejadian di mushola itu, tarbiyah mulai akrab di telingaku. Alhamdulillah. Ada hikmah di balik pelarian kami. Aku mulai intens mengikuti kajian-kajian islam. Semakin banyak memiliki teman-teman baik. Pertemanan yanng dibina atas dasar kecintaan pada Allah. Indah bukan? Begitu juga dengan Hani. Walau kini kami sudah menjalani kehidupan nyata di masyarakat. Hani dengan kesibukannya sebagai istri. Aku dengan dunia kerjaku. Tarbiyah masih bisa kami jalani. Semoga terus sampai akhir hayat kami. Walau aku malu pada-Nya. Diri ini tak sehebat mereka yang memiliki akselerasi dahsyat. Terkadang, ku masih hambanya yang bandel. Tetapi, tetap ku bertekad tak henti mentarbiyah diri untuk selalu lebih baik. Menjadi cahaya bagi mereka yang Allah tuntun padaku untuk mendapat cahaya-Nya melalui aku. Aamiin.
Aku, Cahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar